Saatini Sumsel AMP
Berita Sumsel

Ekonomi Sumsel Tumbuh 5,06%, Industri Pengolahan Jadi Mesin Utama! Ini Sektor Pendorongnya

Ekonomi Sumatera Selatan tumbuh 5,06% secara tahunan pada triwulan III 2026, didorong oleh pertumbuhan positif di seluruh 17 sektor lapangan usaha. Industri pengolahan menjadi mesin pertumbuhan utama, sementara jasa kesehatan mencatatkan lonjakan tertinggi sebesar 11,68%.

Oleh Sigit Nugroho
Ekonomi Sumsel tumbuh 5,06% pada triwulan III 2026. Industri pengolahan dan konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama. (Foto: Dok. ANTARA)

BPS mencatat ekonomi Sumatera Selatan tumbuh 5,06% pada triwulan III 2026. Industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar, sementara konsumsi rumah tangga mendominasi dari sisi pengeluaran.

Palembang, Saatini.com - Perekonomian Sumatera Selatan (Sumsel) menunjukkan kinerja positif pada triwulan III 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi provinsi tersebut tumbuh 5,06% secara tahunan atau year on year (yoy).

Pertumbuhan ini memperlihatkan aktivitas ekonomi Sumsel tetap bergerak di tengah dinamika berbagai sektor usaha. Bahkan, secara kuartalan atau quarter to quarter (qtq), ekonomi Sumsel mampu tumbuh 2,11%.

Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto menyampaikan bahwa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp206,24 triliun pada triwulan III 2026. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp107,66 triliun.

"Dengan besaran Sumsel mencatat pertumbuhan ekonomi secara yoy tumbuh sebesar 5,06 persen. Sementara, secara qtq ekonomi tumbuh 2,11 persen," kata Wahyu di Palembang, Kamis.

Seluruh Sektor Usaha Catat Pertumbuhan

Kinerja ekonomi Sumsel mendapat dukungan dari seluruh sektor lapangan usaha. BPS mencatat 17 sektor ekonomi mengalami pertumbuhan sepanjang triwulan III 2026.

Jasa kesehatan menjadi sektor dengan pertumbuhan paling tinggi, yakni mencapai 11,68%. Posisi berikutnya ditempati perdagangan yang tumbuh 9,59% serta penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 9,52%.

Angka tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan dan layanan kesehatan ikut memberikan dorongan kuat terhadap perekonomian daerah. Sementara itu, sektor akomodasi dan makan minum juga mencatat pertumbuhan tinggi.

Pertambangan Masih Jadi Penopang Ekonomi Sumsel

Dari sisi kontribusi terhadap struktur ekonomi, pertambangan masih menjadi sektor dengan porsi terbesar di Sumsel. Sektor ini menyumbang 24,46% terhadap PDRB dengan pertumbuhan sebesar 2,14%.

Industri pengolahan menempati posisi berikutnya dengan kontribusi 18,51%. Sektor tersebut mencatat pertumbuhan 9,59% dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar di antara lapangan usaha.

Adapun sektor pertanian memberikan kontribusi 14,61% terhadap perekonomian Sumsel. Sektor ini juga tumbuh 4,16% pada triwulan III 2026.

Secara keseluruhan, pertambangan, industri pengolahan, dan pertanian menyumbang sekitar 57,64% terhadap struktur ekonomi Sumsel. Ketiga sektor tersebut menjadi penopang penting bagi aktivitas ekonomi di provinsi itu.

Meski pertambangan memiliki kontribusi terbesar, industri pengolahan justru memberikan dorongan pertumbuhan paling tinggi. Wahyu menyebut sektor industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi Sumsel sebesar 1,30%.

"Untuk sumber pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor industri pengolahan sebesar 1,30 persen," jelasnya.

Konsumsi Rumah Tangga Jadi Motor Pengeluaran

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih memegang peranan terbesar dalam perekonomian Sumsel. Komponen ini menyumbang 56,84% terhadap PDRB dengan pertumbuhan sebesar 4,93%.

Besarnya kontribusi tersebut memperlihatkan konsumsi masyarakat menjadi salah satu penopang utama aktivitas ekonomi daerah. BPS juga mencatat konsumsi rumah tangga sebagai sumber pertumbuhan terbesar dari sisi pengeluaran, yakni 2,81%.

"Sumber pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran itu didominasi oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 2,81 persen," ujar Wahyu.

Setelah konsumsi rumah tangga, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) memberikan kontribusi 28,00% terhadap ekonomi Sumsel. Namun, komponen yang mencerminkan pembentukan modal atau investasi tersebut hanya tumbuh 0,84%.

Sementara itu, ekspor luar negeri menyumbang 22,41% terhadap PDRB. Berbeda dengan konsumsi rumah tangga dan PMTB, ekspor luar negeri justru mengalami kontraksi sebesar 4,06%.

Konsumsi Pemerintah Tumbuh Paling Tinggi

Komponen konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan paling tinggi dari sisi pengeluaran, yakni mencapai 12,39%. Meski demikian, kontribusinya terhadap PDRB Sumsel tercatat sebesar 5,88%.

Selanjutnya, konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) memberikan kontribusi 1,54% dengan pertumbuhan 4,87%. Adapun impor luar negeri sebagai komponen pengurang memiliki kontribusi 3,25% dengan pertumbuhan 5,17%.

Perbedaan kinerja antarkomponen tersebut memperlihatkan bahwa sumber pertumbuhan ekonomi Sumsel tidak hanya berasal dari belanja pemerintah atau investasi. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penggerak terbesar berdasarkan kontribusinya terhadap pertumbuhan.

Sumsel Jadi Provinsi dengan Pertumbuhan Tertinggi Kedua di Sumatra

Kinerja ekonomi Sumatera Selatan juga terlihat dari kontribusinya terhadap perekonomian regional Pulau Sumatra. BPS mencatat Sumsel menyumbang 13,77% terhadap total PDRB di pulau tersebut.

Selain memiliki kontribusi yang besar, Sumsel menempati posisi kedua sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Sumatra pada triwulan III 2026. Posisi pertama ditempati Kepulauan Riau.

Capaian pertumbuhan 5,06% tersebut menempatkan Sumsel sebagai salah satu daerah dengan kinerja ekonomi yang kuat di Sumatra. Pertumbuhan seluruh lapangan usaha, kontribusi industri pengolahan, serta konsumsi rumah tangga menjadi sejumlah faktor penting yang menopang kinerja tersebut. (*)